Home
Latar Belakang Sejarah PDF Print E-mail
Written by Super Admin   
Thursday, 08 July 2010 03:32

    Riverboarding lahir pada tahun 1970an. Awalnya muncul karena kebosanan sekelompok pemandu rafting di Perancis. Mereka menginginkan cara berenang di sungai dengan cara yang lebih menarik dan lebih menantang. Maka orang-orang yang sudah sangat akrab dengan karakter sungai itu mengikat beberapa jaket pelampung menjadi satu, lalu terjun. Ya, sesederhana itulah cikal bakal lahirnya riverboarding. Harus diakui, orang Perancis memang paling kreatif menciptakan tantangan yang tak terbayangkan sebelumnya.


    Salah satu faktor tantangan dalam kegiatan yang juga dikenal dengan sebutan hydrospeed ini adalah kecepatan. Pada bagian arus yang sangat deras, kecepatan peselancar bisa melebihi 30 km per jam. Sama sekali tidak cepat jika dibandingkan kebut-kebutan dengan sepeda motor. Namun, tantangan lainnya adalah hubungan langsung antara pelaku dengan sungai. “Its just between you and the river”, begitu semboyan para pecintanya. Papan selancar modern yang umumnya terbuat dari karet busa itu berketebalan 8-12 cm. Di air sungai yang bergolak, terkadang papan setebal itu tidak berarti apa-apa. Dengan perahu karet atau kayak, kita seringkali ditelan jeram. Dengan riverboard, hampir sepanjang waktu kita berada sejajar dengan permukaan air. Sisanya, sebentar terbenam sebentar terlempar ke udara. Itu sebabnya ada situs internet tentang selancar sungai memasang judul Face Level.


    Tak lama berselang, orang-orang Perancis pencetus riverboarding ini berupaya mengganti pelampung yang awalnya sekadar diikat dengan karet busa. Bentuknya pun terus dikembangkan, hingga mencapai bentuk dasar papan selancar sungai yang dikenal sekarang. Kini, riverboarding sudah menyebar luas di Eropa, Amerika dan Australia serta Selandia Baru. Namun kata Robert Carlson, salah satu tokoh riverboarding modern, sebenarnya kegiatan hydrospeed sudah ada sejak zaman prasejarah. Bagaimana bisa? Menurut Carlson, siapa pun yang melompat masuk ke sungai dengan alat pengapung apa pun, lalu berselancar mengikuti arus, dapat dikategorikan sebagai peselancar sungai. Misalnya, ada kelompok-kelompok manusia purba yang memanfaatkan pohon tumbang atau balok kayu sebagai alat transportasi. Sampai sekarang pun kegiatan semacam itu tetap ada. Contoh, cobalah main ke desa-desa dekat sungai. Anak-anak usia SD dengan santai berceburan di sungai deras acapkali hanya dengan batang pisang atau bambu. Seolah jaman prasejarah masih berlangsung.


    Lantas mengapa riverboarding sangat lambat masuk ke Indonesia? Selain mengenai harga yang lumayan tinggi (harga riverboard di internet rata-rata di atas 3 juta), juga karena lambatnya arus informasi. Namun sekarang dengan mudahnya kita bisa berselancar di internet, sehingga diharapkan  masyarakat Indonesia dapat segera menyelancari sungai-sungai di Indonesia yang tak terhitung potensi dan tantangannya, bahkan berpartisipasi dalam lomba-lomba hydrospeed yang sudah banyak digelar di mancanegara.

Last Updated ( Thursday, 08 July 2010 03:34 )