Home
Pengembangan Riverboarding PDF Print E-mail
Written by Super Admin   
Thursday, 08 July 2010 03:53

    Seperti halnya hampir semua kegiatan di alam terbuka, selancar sungai bisa menjadi kegiatan santai hingga bentuk petualangan yang sangat berbahaya. Para petualang riverboarding mengejar tantangan hingga ke sungai-sungai buas di Afrika, antara lain Sungai Zambesi, salah satu Everest-nya arung jeram. Di lain sisi, banyak sungai yang membelah kota di Eropa ramai pada akhir pekan oleh para peselancar. Mereka melepas ketegangan syaraf dengan melakukan free style riverboarding atau melepas ketegangan otot dengan melakukan jogging di atas riverboard. Sayang, kebanyakan sungai kota di negara ini kurang menarik selera karena harum sampahnya. Riverboarding juga dikompetisikan dalam beberapa mata lomba. Selain kecepatan, ada halang rintang, slalom, bahkan rally jarak jauh. Dan masih terbuka banyak kemungkinan untuk menggabungkannya dengan jenis kegiatan lain, seperti bersepeda cross country, trail running, dan panjat tebing sehingga dapat menjadi multilomba yang kreatif.
    Selain kesehatan fisik dan kekuatan mental, ketrampilan renang terbukti membantu peselancar bermanuver dan meminimalkan bahaya atau resiko subyektif (bahaya yang datang dari diri peselancar itu sendiri). Namun, sama seperti jenis kegiatan di alam terbuka lainnya, selalu ada bahaya obyektif, yaitu bahaya yang datang dari alam atau medan. Selancar sungai sepenuhnya aman, jika peselancar mampu membaca karakter sungai dan tanda-tanda alam serta mematuhinya. Setelah mengenal alat di tepian, melatih teknik-teknik di jeram kelas III dan IV, tidak bijaksana langsung begitu saja terjun ke jeram kelas V. Petualang yang sudah kenyang asam garam sungai tidak menganggap scouting (meninjau bagian sungai yang akan dilalui) sebagai tindakan yang kurang heroik.  Selain itu, selancar sungai membutuhkan mental yang kuat dan tidak mudah panik. Karena menghadapi jeram, apalagi yang berurutan, menuntut peselancar untuk mampu mengambil keputusan dengan sangat cepat. Menghadapi standing wave 3 meter atau bahkan melompati air terjun kecil, pasti akan memompa kencang adrenalin. Dan mungkin itulah yang menyebabkan para peselencar sungai ini kembali lagi dan lagi.